hasil observasi pertama

Sabtu, 20 Februari 2010

Siang hari yang dingin karena hujan turun sangat deras, terlihat seorang Bapak penjual bakso pikul keliling sedang berteduh di deretan ATM. Bapak tersebut bernama Priyono yang berasal dari Solo. Bapak Priyono dan istrinya hijrah ke Bandung pada tahun 1979, di Bandung beliau mengontrak rumah petak di daerah sekitar Tubagus Ismail. Untuk dapat bertahan hidup beliau mulai berjualan bakso pikul keliling yang bermodal awal sejumlah Rp. 100.000,- ( seratus ribu rupiah ) sedangkan istrinya menjual jamu gendong keliling yang bermodal awal sejumlah Rp. 25.000,- ( dua puluh lima ribu rupiah ). Hasil penjualan bakso tersebut memiliki keuntungan yang lumayan dalam menunjang kebutuhan hidup keluarga yang memiliki 3 orang anak. Pada awal kehidupannya di Bandung, mereka merangkak pelan-pelan dalam menjalani usaha kecil- kecilan, mereka banyak mengalami kendala mulai dari trantib yang melarang berjualan di pinggir jalan, banyaknya uang pungutan liar dari tempat berjualan sampai merugi dalam menjalani usaha. Dalam usaha bakso tersebut pernah beliau merasa capek dengan memikul sambil berkeliling dalam menjual bakso maka beliau mencoba untuk berdagang bakso menetap di dekat rumahnya, tetapi bukan mengalami keuntungan malah mengalami kerugian karena tidak banyak yang membeli baksonya sehingga Bapak Priyono memulai kembali usaha baksonya dengan berjualan bakso pikul berkeliling dengan memakai uang simpanan untuk biaya sekolah anak–anaknya. Walaupun hanya dengan berjualan bakso pikul keliling dan jamu gendong beliau dapat menyekolahkan anaknya sampai dengan selesai menengah atas. Anak pertama mereka lulusan STM, sekarang memiliki usaha bengkel motor kecil yang bisa membantu meringankan orang tua dengan hidup mandiri. Sedangkan anak kedua lulusan SMA memiliki usaha rumahan counter pulsa dan anak terakhir masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Di usia yang semakin beranjak tua, Bapak Priyono mempunyai harapan ingin membuka usaha yang lebih maju dan dapat menikmati masa tua dengan keluarga, akan tetapi masalah ekonomi tidak dapat diatasi dengan baik sehingga Bapak Priyono masih menjalani berjualan bakso pikul keliling untuk dapat melangsungkan kehidupannya dan keluarganya agar dapat bertahan hidup di era globalisasi dan ekonomi yang semakin mencekik bagi rakyat kecil seperti Bapak Priyono dan keluarga. Kegigihan Bapak Priyono dalam menjalani kehidupan ini yang tidak pantang menyerah dapat menjadi contoh bagi masyarakat kecil lainnya agar berusaha dulu dalam menjalani kehidupan tanpa mempunyai rasa putus asa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: